Sabtu, 24 November 2012

Sustainable Agriculture

Sustainable agriculture atau pertanian berkelanjutan merupakan pertanian yang berlanjut saat ini, masa depan dan selamanya.

Pertanian berkelanjutan adalah pemanfaatan sumberdaya yang dapat diperbaharui (renewable resources) dan sumberdaya tidak dapat diperbaharui (unrenewable resources), untuk proses produksi pertanian dengan menekan dampak negatif terhadap lingkungan seminimal mungkin. Keberlanjutan yang dimaksud meliputi penggunaan sumberdaya, kualitas dan kuantitas [roduksi, serta lingkungannya. Proses produksi pertanian yang berkelanjutan akan lebih mengarah pada penggunaan produk hayati yang ramah terhadap lingkungan.

Menurut Gips, suatu sistem pertanian itu bisa disebut berkelanjutan jika memiliki sifat-sifat sebagai berikut :

  1. Mempertahankan fungsi ekologis, artinya tidak merusak ekologi pertanian itu sendiri.
  2. berlanjut secara ekonomis artinya mampu memberikan nilai yang layak bagi pelaksana pertanian itu dan tidak ada pihak yang dieksploitasi. Masing-masing pihan mendapat hak sesuai dengan partisipasinya.
  3. Adil berarti setiap pelaku pelaksanaan pertanian mendapatkan hak-haknya tanpa dibatasi dan dibelenggu dan tidak melanggar hal yang lain.
  4. Manusiawi artinya menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, dimana harkat dan martabat manusia dijunjung tinggi termasuk budaya yang telah ada.
  5. Luwes yang berarti mampu menyesuaikan dengan situasi dan kondisi saat ini, dengan demikian pertanian berkelanjutan tidak statis tetapi dinamis bisa mengakomodir keinginan konsumen maupun produsen.
Keberlanjutan ekologis adalah upaya mengembangkan agroekosistem agar memiliki kemampuan untuk bertahan dalam kurun waktu yang lama melalui pengelolaan terpadu untuk memelihara dan mendorong peningkatan fungsi sumber daya alam yang ada. Pengembangan sistem juga berorientasi pada keragaman hayati (biodiversity).

Contoh dari pertanian berkelanjutan yang ada disekitar adalah tumpang sari dimana pada satu lahan ditanam dua atau lebih tanaman yang berbeda jenis dalam waktu yang bersamaan atau hampir bersamaan.

Tanaman yang sering ditanam adalah tanaman jagung dengan cabai dan kacang hijau. Ada juga kacang hijau dan rumput gajah serta masih banyak tanaman lainnya. Setelah tanaman ini dipanen, petani menanam padi kembali. Demikian seterusnya lahan diolah sehingga tidak membuat lahan menjadi kosong atau tidak diolah.

Berikut ini adalah contoh lahan yang ditanam dengan metode tumpang sari yang ada disekitar tempat tinggal saya.






Sumber :
http://tanimulya.blog.com/2010/06/13/pertanian-berkelanjutan/
http://tulisan-kami.blogspot.com/2012/04/pertanian-berkelanjutan-berbasis-sistem.html

Minggu, 11 November 2012

Konservasi Tanah dan Air






Konservasi Tanah dan Air

Konservasi tanah dan air yang sering disebut pengawetan tanah merupakan usaha-usaha yang dilakukan untuk menjaga dan meningkatkan produktifitas tanah, kuantitas dan kualitas air. Apabila tingkat produktifitas tanah menurun, terutama karena erosi maka kualitas air terutama air sungai untuk irigasi dan keperluan manusia lain menjadi tercemar sehingga jumlah air bersih semakin berkurang.
Konservasi tanah pada umumnya terdapat di berbagai tempat yang secara nyata berdampak pada perbandingan panjang kemiringan tanah yang diakibatkan oleh air hingga tanah menyusut. Lalu terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan pada konservasi air dalam rangka pengontrolan erosi dimana kemiringan tanah yang telah ditentukan dalam persen dan panjang kemiringan tanah yang disebut dengan system cropping.


Metode Konservasi Tanah dan Air

Metode konservasi tanha dan air dibagi dalam tiga golongan, yaitu :
a.         Metode vegetative
Metode vegetative adalah suatu cara pengelolaan lahan miring dengn menggunakan tanaman sebagai sarana konservasi tanah (Seloliman, 1997). Tanaman penutup tanah ini selain untuk mencegah atau mengendalikan bahaya erosi juga dapat berfungsi memperbaiki struktur tanah, menambahkan bahan organic tanah, mencegah proses pencucian unsur hara dan mengurangi fluktuasi temperature tanah. Metode vegetative untuk konservasi tanah dan air termasuk antara lain : penanaman penutup lahan (cover crop) berfungsi untuk menahan air hujan agar tidak langsung mengenai permukaan tanah, menambah kesuburan tanah (sebagai pupuk hijau), mengurangi pengikisan tanah oleh air dan mempertahankan tingkat produktifitas tanah (Seloliman, 1997). Penanaman rumput kegunaannya hamper sama dengan penutup tanah, tetapi mempunyai manfaat lain, yakni sebagai pakan ternak dan penguat terras. Cara penanamannya dapat secara raat, barisan maupun menurut kontur.
Penggunaan sisa tanaman untuk konservasi tanah dapat berbentuk mulsa atau pupuk hijau. Dengan mulsa maka daun atau batang tumbuhan disebarkan diatas permukaan tanah, sedangkan dengan pupuk hijau maka sisa-sisa tanaman tersebut dibenamkan ke dalam tanah (Arsyad, 1989).
Syarat-syarat dari tanaman penutup tanah :
1.        Dapat berkembang dan daunnya banyak.
2.        Tahan terhadap pangkasan.
3.        Mudah diperbanyak dengan menggnakan biji.
4.        Mampu menekan tanaman pengganggu.
5.        Akarnya dapat mengikat tanah, bukan merupakan saingan tanaman pokok.
6.        Tahan terhadap penyakit dan kekeringan.
7.        Tidak berduri dan bersulur yang membelit.
Selain dengan penanaman tanaman penutup tanah (cover crop), cara vegetative lainnya adalah :
1.        Tanaman dengan lajur berselang-seling, pada kelerengan 6 – 10 % dengan tujuan :
·      Membagi lereng agar menjadi lebih pendek.
·      Dapat menghambat atau mengurangi laju aliran permukaan.
·      Menahan partikel-partikel tanah yang terbawa oleh aliran permukaan.
Tipe-tipe tanaman ajur berseling adalah :
·      Counter strip cropping : adalah penanaman berselang berdasarkan garis kontur.
·      Field strip cropping : digunakan untuk kelerengan yang tidak bergelombang dengan jalur dapat melewati garis kontur, tetapi tanaman tidak melewati garis kuntur.
·      Wind strip cropping : digunakan pada lahan yang datar atau kelerengan yang tidak tajam dengan jalur tanaman tegak lurus arah angina sehingga kadang-kadang arah alur searah dengan kelerengan.
·      Buffer strip cropping : adalah jalur tanaman yang diselingi dengan lajur rumput atau legume sebagai penyangga.
2.        Menanam secara kontur (Countur planting), pada kelerengan 15 – 18 % dengan tujuan untuk memperbesar kesempatan meresapnya air sehingga run off berkurang.
3.        Pergiliran tanaman (crop rotation).
4.        Reboisasi atau penghijauan.
5.        Penanaman saluran pembuang dengan rumput dengan tujuan untuk melundungi saluran pembuang agar tidak rusak.

b.         Metode mekanik
Cara mekanik adalah cara pengelolaan laha tegalan (tanah darat) dengan menggunakan sarana fisik seperti tanah dan batu sebagai arana konservasi tanahnya. Tujuannya untuk memperlambat aliran air dipermukaan, mengurangi erosi serta menampung dan mengalirkan aliran air permukaan (Seloliman, 1997).
Termasuk dalam metode mekanik untuk konservasi tanah dan air diantaranya pengolahan tanah. Pengolahan tanah adalah setiap manipulasi mekanik terhadap tanah yang diperlukan untuk menciptakan keadaan tanah yang baik bagi pertumbuhan tanaman. Tujuan pokok pengolahan tanah adalah menyiapkan tempat tumbuh bibit, menciptakan daerah perakaran yang baik, membenamkan sisa-sisa tanaman dan memberantas gulma (Arsyad, 1989).
Pengendalian erosi secara teknik mekanik merupakan usaha-usaha pengawetan tanah untuk mengurangi banyaknya tanah yang hilang di daerah lahan pertanian dengan cara mekanis tertentu. Sehubungan dengan usaha-usaha perbaikan tanah secara mekanik yang ditempuh bertujuan untuk memperlambat aliran permukaan dan menampung serta melanjutkan penyaluran aliran permukaan denga daya pengikisan tanah yang tidak merusak.
Pengolahan tanah menurut kontur adalah setiap jenis pengolahan tanah (pembajakan, pencangkulan, pemerataan) mengikuti garis kontur sehingga terbentuk alur-alur dan jalur tumpukan tanah yang searah kontur dan memotong lereng. Alur-alur tanah ini akan menghambat aliran air di permukaan dan mencegah erosi sehingga dapat menunjang konservasi didaerah kering. Keuntungan utama pengolahan tanah menurut kontur adalah terbentuknya penghambat aliran permukaan yang memungkinkan penyerapan air dan menghindari pengangkutan tanah. Oleh sebab itu, pada daerah beriklim kering pengolahan tanah menurut kontur juga sangat efektif untuk konservasi ini.
Pembuatan terras adalah untuk mengubah permukaan tanah miring menjadi bertingkat-tingkat untuk mengurangi kecepatan aliran permukaan dan menahan serta menampungnya agar lebih banyak air yang meresap ke dalam tanah melalui proses infiltrasi (Sarief, 1986). Menurut Arsyad (1989), pembuatan terras berfungsi untuk mengurangi panjang lereng dan menahan air sehingga mengurangi kecepatan dan jumlah aliran permukaan dan memungkinkan penyerapan oleh tanh, dengan demikian erosi berkurang.

c.         Metode kimia
Kemantapan struktur tanah merupakan salah satu sifat tanah yang menentukan tingkat kepekaan tanah terhadap erosi. Yang dimaksud denga cara kimia dalam usaha pencegahan erosi yaitu dengan pemanfaatan soil conditioner atau bahan-bahan pemantap tanah dalam hal memperbaiki struktur tanah sehingga tanah akan tetap resisten terhadap erosi (Kartasapoetra dan Sutedjo, 1985). Bahan kimia sebagai sio conditioner mempunyai pengaruh yang besar sekali terhadap stabilitas agregat tanah. Pengaruhnya berjangka panjang karena senyawa tersebut tahan terhadap mikroba tanah. Permeabilitas tanah dipertinggi dan erosi berkurang. Bahan tersebut juga memperbaiki pertumbuhan tanaman semusim pada tanah liat yang berat (Arsyad, 1989).
Penggunaan bahan-bahan pemantap tanah bagi lahan-lahan pertanian dan perkebunan yang baru dibuka sesungguhnya sangat diperlukan mengingat :
·               Lahan-lahan bukaan baru kebanyakan masih merupakan tanah-tanah virgin yang memerlukan banyak perlakuan agar dapat didayagunakan dengan efektif.
·               Pada waktu penyiapan laha tersebut telah banyak unsur-unsur hara yang terangkat.
·               Pengerjaan lahan tersebut menjadi lahan yang siap untuk kepentingan perkebunan menyebabkan banyak terangkut atau rusaknya bagian top soil, mengingat pekerjaannya menggunakan peralatan-peralatan berat seperti traktor, bulldozer dan alat-alat berat lainnya.

Konservasi Tanan Dan Air Di Desa Darit, Kalimantan Barat

      Upaya konservasi tanah dan air yang dilakukan masyarakat di desa darit, Kalimantan Barat, sering kali dilakukan dengan penanaman tanaman pangan dan tanaman yang dapat mengurangi terjadinya erosi dan mempertahankan kesuburan tanah. Contoh tanaman yang sering ditanam pada DAS adalah pohon kelapa. Desa ini masih terdapat banyak hutan sehingga masih banyak pohon bamboo yang tumbuh dimana pohon bamboo ini memiliki akar serabut yang berfungsi untuk penghalang terjadinya erosi pada tanah.


Sumber :
http://soerya.surabaya.go.id/AuP/e-DU.KONTEN/edukasi.net/Geografi/Pedosfer/materi2.html